Skip to main content

MEMBUAT PASPOR BARU DI KANTOR IMIGRASI KELAS SATU DI. YOGYAKARTA

PAGI PAGI PAGI!
Pagi ini aku bakalan share pengalaman bikin paspor baru di kantor Imigrasi kelas I DI. Yogyakarta. Ceritanya, aku dapet tawaran untuk jadi AuPair di Jerman (bakalan ada waktu buat mengulasnya nanti), jadi harus siap-siap dari sekarang. Persiapan pertama adalah bikin paspor, soalnya emang belum pernah bikin sih, hehe. Seperti biasa, aku paling males kalau harus ngurus dokumen perjalanan menggunakan jasa calo, maunya ya ngurus sendiri. hehehe. Sebenarnya ada dua cara daftar bikin paspor, daftar walk in dan daftar online. Awalnya aku coba buka web kantor imigrasi Yogyakarta, tapi ternyata nihil, server mereka sedang off, syedih :(
Jadilah hari Jum'at pagi-pagi sekali aku otw kantor imigrasi Yogyakarta. Sampai TKP aku langsung menuju FO (Front Office), di sini si CS (Customer Service) memberi arahan tentang syarat-syarat pembuatan paspor, dokumen apa saja yang harus dibawa, memberi formulir dan memberi nomer antrean. Aku dapet nomer antrean 63, hiks.
Dokumen yang harus dibawa:
A. Bukti Domisili
1. KTP
2. KK
B. Bukti Identitas Diri
1. Akte Kelahiran/ Ijazah
2. Akte Perkawinan/ Surat Nikah (bagi yang sudah menikah)
"SEMUA DOKUMEN DIFOTOCOPI HVS A4"

Alhamdulillah aku udah nyiapain semua berkas dari rumah, jadi nggak ribet-ribet lagi buat naik turun fotocopi.
Selanjutnya, tinggal duduk manis nunggu panggilan. Di sini kesabaran kita diuji, hahaha. Karena bulan Oktober aku ujian bahasa Jerman, jadi sembari menunggu aku belajar dan mencoba ngerjain soal, walaupun kurang kondusif, tapi lumayan lah daripada nglangut, hehe. Setelah kurang lebh 2 jam menunggu, akhirnya noerku dipanggil untuk masuk loket satu. Sebenarnya ada banyak loket, karena kantor imigrasinya sedang ada renovasi, jadi semua loket dijadikan dalam satu ruang.
Panggilan pertama cuma ngumpulin formulir dan dokumen aja kok, paling ditanya-tanya dikit buat apa bikin paspor dan ngobrol-ngobrol cyiantik :D
Selanjutnya kita bakalan nunggu lagi, untuk panggilan foto. Jadi emang harus sabar yaaa, wkwkwk.
2 jam kemudian, namaku dipanggil lagi untuk menuju loket 1. Kali ini kita difoto biometris (tanpa kacamata), dan cetak sidik jari. Agak ribet sih, soalnya jariku tremor gitu, wkwkwk. Selanjutnya kita dikasih satu lembar bukti telah mendaftar Paspor, dengan biaya Rp. 355.000,00. Biaya ini harus kita bayar di Bank(bisa di bank mana aja), bukan di Kantor Imigrasi. Petugas loketnya sih bilang kalau Paspor akan jadi setelah 3-4 hari kerja.
Oke deh, kalau begitu yuk kita beranjak pergi ke Bank! Saatnya bayar Paspor ^_^

Comments

Popular posts from this blog

AUPAIR #5 (BIAYA PERSIAPAN AU PAIR)

Hallo leute! Wie geht? Gimana kabar kalian gaes? Sudah cari refrensi tentang Au Pair belum nih? Sudah ada yang les bahasa Jerman? Atau sudah ada yang nyicil bikin profile? Semangat terus yaaaa, pokoknya semangat!!! FYI: sepertinya keberangkatanku ke Jerman mundur bulan depan, karena dokumen dari orangtua asuh di sana belum sampai ke Indonesia, Hiks.  Tapi nggak papa, overall persiapan yang harus aku siapin udah kelar. Pokoknya tinggal nunggu dokumen dari orangtua asuh sebagai syarat membuat VISA AU PAIR. Mohon doa restu ya gaes. Bicara tentang Au Pair, udah tau kan Au Pair itu apa?  Au Pair itu bagaimana? Dan perbedaan Au Pair vs Nanny? Nah, untuk tulisan kali ini, aku akan kasih bocoran “ jumlah uang yang harus dikeluarkan untuk persiapan Au Pair ”. Lagi-lagi ada yang berkomentar, “ Katanya Au Pair gratis, tapi kok ada biaya persiapannya sih? ”. Dan sekali lagi saya tekankan, yang gratis itu mengikuti program Au Pairnya, tapi untuk mengurus syarat mendaftarkan...

AU PAIR #1 (Apa itu Au Pair?)

“Mbak Na mau ke Jerman?” “Ratna mau ke Jerman? Waaah hebat” “Cuta ke Jerman ngapain? S2 ya?” “Ke Jerman gratis? Mau donk, gimana caranya?” Dan masih banyak pertanyaan teman-teman setelah tahu bahwa saya akan berangkat ke Jerman. Jadi biar lebih jelas, sekalian aja aku tulis di sini ya. Cerita ini berawal saat aku ikut les privat bahasa Jerman di tahun 2014. Mentorku ada dua, Frau Eva & Frau Wulan. Frau Eva adalah alumnus Au Pair Germany dan saat itu Frau Wulan adalah mahasiswi UNY Fakultas Pendidikan Bahasa Jerman (sekarang sudah menikah dan bekerja). Beribu terimakasih untuk kalian guru-guruku. Jadi, di awal belajar Frau Wulan bertanya “Apa motivasimu belajar bahasa Jerman?” Akupun menjawab seadanya “Aku ingin lanjut kuliah di Jerman, merasakan hidup teratur di Jerman, mencoba menjadi minoritas di suatu lingkungan baru, dan yang pasti aku ingin membawa perubahan saat kembali ke Indonesia”. Frau Wulan bilang “Kamu tahu Au Pair? Dengan Au Pair kamu b...

AU PAIR #4 (AU PAIR vs NANNY)

Hallo leute, wie geht? Hallo semuanya, apa kabar? Kali ini aku bakal bahas tentang perbedaan Au Pair dan Nanny (baby sitter/ pembantu). Setelah aku nulis tentang Au Pair, banyak yang ternganga saat aku bilang salah satu tugas Au Pair adalah “mengasuh anak”. Oke lah, kita memang tinggal di lingkungan yang menganggap bahwa “mengasuh anak” berarti jadi nanny. Atau beres-beres rumah orang adalah pembantu. Padahal, tidak semua yang mengasuh anak adalah nanny dan tidak semua yang beres-beres rumah orang lain  adalah pembantu. Kok Ratna bisa bilang gitu? Ya iyalah, orang aku di rumah beres-beres & mengasuh anak (ponakan), hahaha. Kalau bagi kalian mengasuh anak & beres-beres rumah adalah nanny & pembantu, berarti aku nanny dan pembantu tanpa bayaran donk? Hahaha Lol. Okeoke, yuk kita move ngebahas tentang hal ini. Sebagimana yang sudah aku tulis di blog sebelumnya (klik di sini  dan ini ), bahwa Au Pair adalah program pertukaran kebudayaan. Namun banyak yang menan...